Sejak malam di akhir Ramadhan, gema takbir, tasbih, dan tahmid berkumandang di berbagai penjuru: di masjid-masjid, di musala-musala, di jalanan, hingga di rumah-rumah kita. Lantunan itu menjadi pertanda bahwa kita telah menyempurnakan bilangan Ramadan, lalu memasuki hari nan fitri, hari kemenangan, hari kembali kepada kesucian.
Takbir yang kita lantunkan bukan sekadar hiasan bibir
semata, bukan semata-mata semarak berhari raya, tetapi takbir berarti
mengagungkan kebesaran Allah atas keberhasilan kita dalam melawan hawa nafsu
selama berpuasa. Rasulullah SAW pernah menyatakan dalam sebuah hadis bahwa
berperang melawan nafsu adalah bentuk jihad yang terbesar. Oleh karena itu,
atas kemenangan yang besar ini, seraya kita ucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar. Pada hari ini beruntunglah mereka yang menyucikan diri dengan berbagai
amaliah Ramadan, dan rugilah mereka yang mengotorinya dengan berbagai maksiat
(qad aflaha man zakkaha wa qad khaba man dassaha).
Namun, bagaimana kita memaknai hari kemenangan ini agar kita
menjadi orang yang benar-benar bertakwa, sesuai dengan tujuan berpuasa Ramadan?
Untuk itu, ada beberapa indikator kemenangan hakiki yang harus kita miliki.
Indikator pertama: Meningkatnya hubungan kita dengan Allah
SWT
Selama satu bulan, kita ditempa sedemikian rupa untuk
menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa terhubung dengan Allah SWT. Selama
Ramadan, kita dilatih untuk menahan diri dari sesuatu yang halal, seperti makan
dan minum. Pada saat sepi, misalnya, tiada satu pun mata manusia yang melihat,
memungkinkan kita untuk mencuri-curi kesempatan untuk makan dan minum, tetapi
kita sadar ada Allah yang selalu mengawasi setiap gerak-gerik kita.
Selama Ramadan, kita dilatih untuk semakin tekun dalam
tilawah al-Qur’an, semakin rajin menunaikan shalat, baik shalat fardu maupun
sunnah, serta semakin khusyuk dalam munajat, doa, dan istighfar. Bahkan, kita
juga berpeluang meraih satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yang dikenal
sebagai Lailatul Qadar. Semua itu merupakan wasilah atau perantara yang dapat
mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Dengan orientasi spiritual ini, maka Idul Fitri sesungguhnya
bukan hanya tentang perayaan yang bersifat fisik dan materil semata, tetapi
Idul Fitri adalah tentang sejauh mana ketaatan kita bertambah. Syekh Abdul
Hamid al-Makki asy-Syafi’i dalam kitab Kanzun Najah was Surur mengungkapkan:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ
لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ
“Bukanlah disebut id bagi orang yang hanya mengenakan
(pakaian) baru, sesungguhnya id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan
setiap hari yang tiada maksiat di dalamnya itulah id.”
Indikator kedua: Yunfiquna fi al-sarra’ wa al-dharra
(selalu menginfaqkan harta dalam kondisi apapun)
Kemenangan Idul Fitri ini juga ditandai dengan dorongan kuat
untuk selalu berinfak, baik di kala lapang maupun sempit. Syaikh Nawawi
al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid mengatakan:
كما يحكى عن بعض السلف أنه ربما تصدق ببصلة
وعن عائشة رضي الله عنها أنها تصدقت بحبة عنب
“Sebagian ulama salaf berinfak dengan sebiji bawang, bahkan
diriwayatkan Siti Aisyah pernah bersedekah dengan sebiji anggur.”
Ini menunjukkan bahwa berinfak atau bersedekah kepada sesama
tidak harus menunggu kaya raya dengan harta berlimpah. Setiap orang dapat
berbagi sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing. Momentum Idul Fitri
adalah saat yang baik untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang
membutuhkan. Masih banyak fakir miskin, yatim piatu, dan orang-orang terlantar
yang memerlukan uluran tangan kita.
Pada hari ini, ketika anak-anak kita bergembira menyambut
hari raya, bermain riang dengan pakaian serba baru, di belahan bumi lain,
khususnya di Gaza, Palestina, banyak saudara-saudara kita justru menyambut Idul
Fitri dalam duka dan luka. Betapa pilu hati mereka; dentuman bom telah
merenggut rumah-rumah mereka, merampas kebahagiaan mereka, bahkan memisahkan
mereka dari ayah, ibu, dan orang-orang tercinta. Anak-anak yang seharusnya
tertawa di hari raya, kini harus menahan tangis di tengah puing-puing dan ketakutan.
Mereka tak memiliki pakaian baru untuk dikenakan, tak ada hidangan istimewa
untuk dinikmati, bahkan tak sedikit yang merayakan Idul Fitri tanpa kehangatan
keluarga di sisinya. Sementara kita merasakan suasana kemenangan dan
kebahagiaan, mereka menjalani hari raya dalam kesedihan, kelaparan, dan
kehilangan. Dalam keadaan seperti itulah, mereka sangat membutuhkan doa,
kepedulian, dan uluran tangan kita.
Oleh karena itu, di akhir Ramadan, ada kewajiban membayar
zakat fitrah yang menjadi penyempurna ibadah puasa kita. Membayar zakat
dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial kita kepada sesama, agar hari nan
Fitri dapat juga dirayakan oleh mereka yang hidup dalam kesusahan dan
keterbatasan.
Indikator ketiga: Wa al-kazhimina al-ghayzha (mampu
menahan amarah)
Amarah sering kali menjadi awal dari segala kehancuran.
Marah dapat mengganggu stabilitas sosial. Marah bisa menyulut api konflik.
Marah bisa memicu perpecahan sesama anak bangsa, dan perceraian dalam rumah
tangga. Bahkan, amarah dapat menyebabkan peperangan antarnegera yang tidak
berkesudahan. Maka, Rasulullah dalam sebuah hadits mengajarkan kepada kita,
“jangan marah, jangan marah, jangan marah.” Diulang sampai tiga kali.
Dunia kita hari ini sangat memerlukan kemampuan menahan
amarah. Media-media sosial kita sering kali menghadirkan pesan-pesan provokatif
yang memancing emosi; kalau tidak dilandasi kemampuan mengendalikan diri, kita
akan terdorong untuk marah dan saling membenci, bertindak anarkis dan
persekusi, sehingga meluluhlantakkan tatanan negeri yang kita cintai.
Ramadan telah mendidik kita menjadi pribadi yang mampu
mengendalikan emosi. Rasulullah melalui Ramadhan mengajarkan kita, “Jika ada
seseorang mencaci maki atau mengajak bertengkar saat berpuasa, maka katakanlah:
‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’’ (HR. Bukhari).
Puasa telah melahirkan jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang
tidak akan mudah tersulut amarahnya hanya karena persoalan spele. Jiwa yang
tenang justru mengutamakan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai masalah di
sekitarnya.
Indikator keempat: Wa al-‘afina ani al-nas (mampu
memaafkan)
Memaafkan adalah tindakan yang berat namun sangat mulia. Dalam Tafsir al-Sa’adi dikatakan bahwa:
العفو عن كل من أساء إليك بقول أو فعل، والعفو
أبلغ من الكظم، لأن العفو ترك المؤاخذة مع السماحة عن المسيء
“Tindakan memaafkan adalah memaafkan setiap orang yang
berbuat buruk kepada engkau, baik perkataan maupun perbuatan. Memaafkan
merupakan tindakan yang mulia. Memaafkan berarti tidak membalas keburukan orang
lain dengan keburukan serupa, serta memberikan toleransi.”
Memberi maaf lebih berat daripada tindakan meminta maaf.
Untuk meminta maaf, orang hanya perlu menurunkan ego dengan mengakui kesalahan.
Tetapi, untuk memaafkan, orang harus menghapus dan melupakan semua kesalahan
orang lain terhadap dirinya. Karenanya, wajar apabila Allah memberikan pahala
yang besar bagi mereka yang mau memaafkan, sebagaimana dinyatakan dalam Surat
al-Syura ayat 40.
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ
فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُه عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّه لَا يُحِبُّ
الظّٰلِمِيْنَ ٤٠
“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal.
Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat
jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang
zalim.”
Kesempurnaan Idul Fitri hanya dapat diraih dengan saling
memaafkan. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali masalah spele berujung pada
dendam kesumat; tidak saling bertegur sapa selama berhari-hari, berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun, padahal itu sangat dilarang.
لا يحل لرجل أن يهجر أخاه المسلم فوق ثلاث ،
يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا وخيرهما الذي يبدأ بالسلام. رواه البخاري
“Tidak halal bagi seseorang apabila ia memutuskan hubungan
dengan saudaranya sesama Muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu
namun saling mengacuhkan satu sama lain dan yang terbaik dari keduanya adalah
yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).
Oleh karena itu, mari kita sambungkan silaturahim yang
sempat terputus. Pemutus silaturahim diancam tidak masuk surga.
لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ – يَعْنِي:
قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
“Tidak akan masuk
surga orang yang memutus silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaih).
Di Hari Fitri ini, seorang anak hendaklah bersimpuh di kaki
kedua orang tua, meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat.
Karena seujung kuku pun, sikap, perilaku, dan ucapan kita yang pernah
menggoreskan luka di hati mereka akan menghambat langkah kita untuk meraih
ridha Allah SWT. Ridhallah fi ridha al-walidain wa sukhtullah fi sukhtil
walidain (ridha Allah tergantung ridha orang tua; murka Allah pun tergantung
murka orang tua). Demikian pula, orang tua harus terbuka memberikan maaf kepada
anak-anaknya.
Dalam kehidupan sosial dan bertetangga, setiap orang harus
membuka diri untuk meminta maaf dan memaafkan sesamanya. Ingatlah bahwa
kesalahan antarsesama manusia hanya bisa dihapus dengan saling memaafkan.
Kesalahan manusiawi yang tidak diselesaikan akan dapat mengacaukan perjalanan
kita di hari hisab kelak.
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِاَخِيْهِ
مِنْ عَرَضٍ أَوْمِنْ شَىْءٍ فَلْيتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ مِنْ قَبْلِ اَنْ
لَا يَكُونَ دِيْنَارٌوَلَا دِرْهَمٌ اِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَمِنْهُ
بِقَدْرِمَظْلَمَتِهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَمِنْ سَيِّئَاتِ
صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa melakukan perbuatan zalim kepada saudaranya
menyangkut kehormatan atau apa pun, maka hendaklah ia segera meminta maaf atas
perbuatan zalim yang dia lakukan hari itu juga, sebelum dihisab di hari kiamat.
Saat orang tidak maaf atas kezalimannya di dunia, maka akan diambil pahala amal
kebaikannya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jika sudah tidak ada lagi
amal-amal kebaikannya, maka dosa-dosa orang yang dizalimi akan dibebankan
kepadanya (HR Bukhari dan Tirmidzi).
Indikator kelima:
Mudik atau pulang ke kampung halaman
Salah satu bagian penting dari menyambung silaturahim adalah dengan melakukan mudik ke kampung halaman. Pulang kampung berarti kembali ke rumah masa kecil kita; di situ kita dilahirkan sebagai pribadi yang polos dan bersih; di situ kita menjalani masa kecil bersama keluarga; di situ pula kita memperoleh pendidikan dasar dari ayah dan ibu. Jadi, pulang kampung sebetulnya memiliki spirit ‘kembali’ kepada fitrah jati diri kita yang sebenarnya.
Oleh karena itu, mudik ke kampung halaman tidak boleh dikotori dengan niat kesombongan untuk pamer pencapaian kepada orang-orang di kampung. Pulang kampung harus menjadi sarana napak tilas tentang sejarah hidup. Di kampung halaman, kita bisa bertemu sanak saudara, berziarah ke pusara orang-orang tua kita yang telah tiada, mengingat-ingat masa kecil tempat di mana dulu kita ditempa, agar kita menjadi manusia yang tak lupa daratan. Kedua orang tua kita mungkin memang telah tiada, tapi masih ada saudara/keluarga dari ayah dan ibu, yang harus kita kunjungi dan sambungkan tali persaudaraan. Betapa sedihnya kedua orang tua kita di alam barzakh ketika anak-anaknya melupakan asal-usul dan memutuskan silaturahim dengan keluarganya.
Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW juga pernah “mudik” ke
kampung halamannya, Kota Mekah, dalam suasana kemenangan. Setelah sekian lama
berhijrah dan berdakwah di Madinah, tepat pada 20 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah
terjadilah Fathu Makkah, yang menjadi momentum kepulangan Rasulullah SAW dan
para sahabat ke Mekah setelah sekitar 8 tahun meninggalkannya. Peristiwa ini
diisyaratkan dalam Surat Al-Qashash ayat 85.
اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ
لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَاد
“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad)
untuk (melaksanakan hukum-hukum) Alquran, benar-benar akan mengembalikanmu ke
tempat kembali, Mekah (QS Al-Qashash [28]: 85).
Dengan demikian, mudik ke kampung halaman selain bertujuan
untuk menyadarkan kita tentang jati diri, juga memperkuat silaturahim,
memberikan perhatian kepada saudara-saudara kita, membantu mereka keluar dari
ketertinggalan dan mendorong kemajuan.
Kesimpulan
Sebagai simpulan, hari nan fitri harus kita maknai sebagai
hari kemenangan spiritual dalam bentuk peningkatan kedekatan dengan Allah SWT,
sekaligus kemenangan sosial dalam bentuk peningkatan kepedulian sosial kepada
sesama. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita,
dan mempertebal rasa kemanusiaan kita. Amin ya rabbal alamin.
-------------
*) pernah disampaikan dalam khutbah Idul Fitri 2026 di Masjid Al-Amien, Perumahan Graha Mukti Semarang.

0 Komentar